
Technical Skill Gap: Masalah HR atau Operational Risk bagi Perusahaan?
Agustus 31, 2026
Skill Matrix Teknisi: Cara HR dan Engineering Mengukur Kompetensi Tim Secara Objektif
September 14, 2026Perusahaan membutuhkan teknisi yang kompeten untuk menjaga produktivitas dan reliability operasional. Namun, mendapatkan teknisi dengan skill yang tepat tidak selalu mudah.
HR dan management sering menghadapi dua pilihan utama. Perusahaan dapat mengembangkan teknisi internal atau merekrut talent dari pasar.
Keputusan tersebut dikenal sebagai Build vs Buy Talent. Konsep ini semakin relevan ketika perusahaan menghadapi technical skill gap dan kebutuhan kompetensi yang semakin spesifik.
Namun, keputusan tersebut tidak seharusnya hanya berdasarkan biaya recruitment. Perusahaan perlu mempertimbangkan speed, competency, operational risk, retention, dan kebutuhan jangka panjang.
Apa Itu Build vs Buy Talent?
Build berarti perusahaan membentuk kompetensi teknisi dari dalam organisasi. Perusahaan dapat memilih karyawan potensial untuk mengikuti technical training. Mereka kemudian mendapatkan pengalaman melalui praktik dan on-the-job training.
Buy berarti perusahaan mencari teknisi yang sudah memiliki kompetensi tertentu. Perusahaan kemudian merekrut talent tersebut melalui external hiring. Kedua strategi memiliki kelebihan dan risiko. Karena itu, perusahaan perlu menentukan strategi berdasarkan kondisi operasional.
Kapan Perusahaan Sebaiknya Build Talent?
Strategi build cocok ketika perusahaan membutuhkan kompetensi tersebut secara berkelanjutan. Perusahaan juga dapat memilih build ketika kandidat internal memiliki potential yang kuat. Training kemudian menjadi cara untuk mempercepat perkembangan kompetensi mereka.
Strategi ini memberikan beberapa keuntungan.
- Perusahaan membangun internal talent pipeline.
- Kompetensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
- Knowledge tetap berada di dalam perusahaan.
- Career development menjadi lebih jelas.
- Retention dapat diperkuat melalui investasi pada skill.
Pengembangan teknisi juga membantu perusahaan mengurangi dependency terhadap external talent.
TSDC sendiri menggunakan pendekatan industry-based learning dengan classroom training, practical workshop, dan workplace application.
Kapan Perusahaan Sebaiknya Buy Talent?
Buy talent lebih cocok ketika perusahaan membutuhkan kompetensi dalam waktu singkat. Kondisi ini sering muncul ketika perusahaan mendapatkan project baru. Kebutuhan kompetensi juga dapat muncul karena ekspansi atau perubahan teknologi.
Recruitment menjadi pilihan ketika internal talent belum siap menghadapi kebutuhan tersebut. Strategi buy dapat memberikan akses lebih cepat kepada tenaga berpengalaman. Namun, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan recruitment cost dan retention risk.
External hire juga belum tentu langsung memahami equipment dan workflow perusahaan. Karena itu, proses onboarding tetap penting setelah recruitment selesai.

Build vs Buy Bukan Sekadar Masalah Recruitment
Kesalahan umum terjadi ketika perusahaan menganggap technical skill gap sebagai masalah recruitment. Padahal, skill gap menunjukkan adanya perbedaan antara kompetensi yang tersedia dan kebutuhan pekerjaan. Masalah tersebut dapat diselesaikan melalui recruitment, training, atau kombinasi keduanya.
Perusahaan perlu melihat kebutuhan kompetensi secara lebih strategis. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah kita membutuhkan teknisi baru?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kompetensi apa yang harus kita miliki dalam tiga hingga lima tahun?”
Build Talent Dapat Menjadi Strategi Retention
Training tidak hanya meningkatkan technical competency. Program pengembangan juga dapat memberikan jalur career development bagi teknisi. Karyawan yang melihat peluang pengembangan memiliki alasan lebih kuat untuk bertumbuh bersama perusahaan. Hal tersebut membuat technical training relevan bagi HR dan L&D. Training juga dapat membantu perusahaan membangun internal succession pipeline. Teknisi junior dapat berkembang menjadi senior technician atau technical supervisor. TSDC menempatkan pengembangan kompetensi teknisi dalam konteks productivity, quality, safety, dan operational goals.
Bagaimana Menentukan Strategi yang Tepat?
Perusahaan dapat menggunakan beberapa pertanyaan sederhana.
Pertama, seberapa urgent kebutuhan tersebut?
Jika kebutuhan sangat urgent, recruitment dapat menjadi solusi awal.
Kedua, apakah skill tersebut akan dibutuhkan dalam jangka panjang?
Jika iya, perusahaan sebaiknya mulai membangun internal capability.
Ketiga, apakah perusahaan sudah memiliki kandidat internal?
Jika tersedia, training dapat menjadi pilihan yang lebih strategis.
Keempat, seberapa sulit mendapatkan talent tersebut dari pasar?
Skill yang sangat spesifik dapat membutuhkan recruitment time lebih panjang.
Kelima, berapa besar operational risk jika kompetensi tidak tersedia?
Semakin tinggi risikonya, semakin penting perusahaan memiliki competency pipeline.
Hybrid Strategy: Build dan Buy Bersamaan
Perusahaan tidak harus memilih satu strategi secara mutlak. Hybrid strategy dapat menggabungkan recruitment dengan technical training. Perusahaan dapat merekrut beberapa experienced technicians. Pada saat yang sama, perusahaan mengembangkan teknisi internal.
Experienced technicians kemudian dapat membantu transfer knowledge kepada internal team. Model ini membantu perusahaan memenuhi kebutuhan jangka pendek. Perusahaan juga tetap membangun capability untuk kebutuhan jangka panjang. Pendekatan hybrid semakin relevan karena banyak perusahaan menghadapi kebutuhan skill yang berubah cepat.
Peran Technical Training dalam Build Talent
Build talent membutuhkan program training yang terstruktur. Training harus memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan teknisi. Materi sebaiknya mencakup technical knowledge, troubleshooting, safety, dan practical application.
Assessment juga penting untuk mengetahui perkembangan competency. TSDC menggunakan kombinasi classroom, workshop, assessment, dan workplace application. Programnya menggunakan kurikulum Electrotechnology yang dikembangkan bersama Holmesglen Victoria TAFE. Pendekatan tersebut membantu perusahaan mengembangkan teknisi berdasarkan kebutuhan pekerjaan nyata.
Jadi, Build atau Buy?
Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap perusahaan. Buy lebih tepat ketika perusahaan membutuhkan competency dengan cepat. Build lebih tepat ketika perusahaan ingin memiliki capability tersebut secara berkelanjutan. Hybrid menjadi pilihan menarik ketika perusahaan membutuhkan keduanya.
Yang terpenting adalah perusahaan tidak melihat talent sebagai sekadar recruitment requirement. Talent harus menjadi bagian dari operational strategy. Dengan strategi Build vs Buy Talent yang tepat, perusahaan dapat menutup skill gap secara lebih terarah. Perusahaan juga dapat membangun technical workforce yang lebih siap menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan operasional.
Saatnya Mengubah Technical Skill Gap Menjadi Talent Pipeline
Perusahaan tidak harus selalu mencari teknisi siap pakai dari pasar. Dengan technical training yang tepat, perusahaan dapat membangun teknisi berdasarkan kebutuhan bisnisnya.
TSDC membantu perusahaan mengembangkan electrical workforce melalui program berbasis industry needs, practical training, dan workplace application. Program TSDC juga dirancang untuk meningkatkan competency, productivity, quality, dan safety.
Jika perusahaan Anda sedang menghadapi technical skill gap, saatnya mengevaluasi strategi talent development. Hubungi TSDC untuk mendiskusikan kebutuhan technical training dan workforce development perusahaan Anda.
Whatsapp : +62 811 1302 0888
Email : marketing@ptodg.com




