
Build vs Buy Talent: Haruskah Perusahaan Membentuk Teknisi Sendiri atau Merekrut dari Pasar?
September 5, 2026Perusahaan membutuhkan teknisi kompeten untuk menjaga produktivitas dan reliability operasional. Namun, pengalaman kerja belum selalu menunjukkan kemampuan teknisi secara objektif.
HR dan Engineering membutuhkan metode yang lebih terstruktur. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah skill matrix.
Skill matrix membantu perusahaan memetakan kemampuan teknisi berdasarkan kompetensi dan level penguasaan. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk training, promotion, recruitment, dan workforce planning.
Apa Itu Skill Matrix Teknisi?
Skill matrix adalah metode untuk memetakan kemampuan teknisi berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Setiap kompetensi memiliki level penguasaan yang dapat diukur.
Kompetensi tersebut dapat mencakup electrical troubleshooting, preventive maintenance, PLC, instrumentation, mechanical maintenance, dan safety.
Perusahaan dapat menggunakan empat level kompetensi sederhana.
Level 1 menunjukkan pemahaman terhadap konsep dasar. Teknisi masih membutuhkan arahan saat menjalankan pekerjaan.
Level 2 menunjukkan kemampuan menjalankan pekerjaan dengan supervision. Teknisi sudah memahami prosedur dan standar kerja.
Level 3 menunjukkan kemampuan bekerja secara independent. Teknisi dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai standar yang ditetapkan.
Level 4 menunjukkan kemampuan menangani pekerjaan kompleks. Teknisi juga mampu memberikan coaching kepada anggota tim.
Pendekatan berbasis level membantu perusahaan mengurangi penilaian berdasarkan asumsi. Assessment juga perlu menggunakan bukti kemampuan dan workplace observation.
Mengapa HR dan Engineering Membutuhkan Skill Matrix?
HR biasanya melihat kompetensi dari sisi workforce development. Engineering melihatnya dari sisi operational capability dan technical performance. Keduanya membutuhkan data kompetensi yang sama untuk mengambil keputusan.
Dengan Skill Matrix Teknisi, perusahaan dapat melihat skill gap setiap teknisi. Perusahaan juga dapat melihat competency gap pada seluruh tim. Skill matrix dapat menunjukkan critical skill yang hanya dikuasai beberapa teknisi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan operational risk. Data tersebut juga membantu perusahaan menentukan training priority. Training tidak lagi hanya berdasarkan permintaan atau program tahunan.
Cara Membuat Skill Matrix yang Objektif
1. Tentukan Kompetensi yang Dibutuhkan
Mulailah dengan menentukan kompetensi berdasarkan setiap job role. Hindari membuat daftar kompetensi yang terlalu umum. Electrical technician membutuhkan kompetensi berbeda dari mechanical technician. Maintenance technician juga memiliki kebutuhan berbeda dari commissioning technician. Kompetensi harus berkaitan langsung dengan pekerjaan dan operational requirements.
2. Tentukan Required Competency Level
Setiap posisi membutuhkan minimum competency level. Level tersebut menjadi benchmark saat melakukan assessment. Misalnya, senior electrical technician membutuhkan level tinggi untuk troubleshooting dan electrical safety. Standar tersebut membantu perusahaan membandingkan kemampuan teknisi secara konsisten.
3. Lakukan Competency Assessment
Jangan hanya mengandalkan self-assessment dari teknisi. Gunakan beberapa metode untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif. Assessment dapat menggunakan written test, practical test, interview, dan workplace observation. Practical assessment sangat penting untuk technical roles. Metode tersebut dapat menunjukkan kemampuan teknisi dalam menghadapi kondisi pekerjaan nyata.
4. Bandingkan Current Level dengan Required Level
Setelah assessment selesai, bandingkan kemampuan aktual dengan standar posisi. Misalnya, posisi membutuhkan Level 3. Namun, hasil assessment menunjukkan Level 2. Artinya terdapat competency gap yang membutuhkan development action. Perusahaan dapat melakukan assessment secara berkala untuk melihat perkembangan kompetensi.
5. Hubungkan Skill Gap dengan Training Plan
Skill matrix tidak boleh berhenti sebagai dokumen HR. Setiap gap perlu memiliki action plan yang jelas. Action dapat berupa technical training, coaching, mentoring, job rotation, atau practical assessment. Training juga harus menyesuaikan tingkat kompetensi masing-masing teknisi.
Skill Matrix Membantu Menentukan Training Priority
Salah satu manfaat utama skill matrix adalah membantu perusahaan menentukan prioritas training. Perusahaan mungkin memiliki puluhan teknisi dengan berbagai skill gap. Tidak semua gap memiliki tingkat urgensi yang sama. Critical competency harus mendapatkan prioritas lebih tinggi. Contohnya electrical safety, troubleshooting, protection system, atau kompetensi lain yang memengaruhi operational reliability.
Perusahaan juga dapat mengidentifikasi kompetensi yang menjadi bottleneck. Jika hanya satu teknisi menguasai kompetensi tertentu, perusahaan memiliki risiko ketika teknisi tersebut tidak tersedia. Training dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah teknisi yang menguasai kompetensi tersebut.
Skill Matrix Bukan Sekadar Spreadsheet
Banyak perusahaan membuat skill matrix, tetapi tidak menggunakannya secara rutin. Skill matrix seharusnya menjadi bagian dari workforce development process. Perusahaan perlu memperbarui data setelah training dan assessment.
Data juga perlu diperbarui ketika teknisi mendapatkan promotion atau tanggung jawab baru. Dengan pembaruan rutin, HR dan Engineering dapat melihat perkembangan kompetensi secara lebih jelas. Skill matrix juga dapat membantu perusahaan menghubungkan competency data dengan training records.
Hubungkan Skill Matrix dengan Training Center
Skill matrix akan memberikan manfaat lebih besar ketika perusahaan memiliki training program yang sesuai dengan competency gap. Training center dapat membantu perusahaan melakukan assessment dan technical development secara lebih terstruktur. Program training dapat disesuaikan dengan kebutuhan electrical, mechanical, instrumentation, maintenance, safety, dan kompetensi teknis lainnya.
TSDC dapat menjadi partner perusahaan dalam mengembangkan technical workforce. Program training dapat disusun berdasarkan kebutuhan industri dan level kompetensi peserta. Pendekatan tersebut membantu perusahaan mengetahui siapa yang memiliki gap. Perusahaan juga memiliki roadmap untuk menutup gap tersebut.
Dari Competency Mapping Menuju Workforce Development
Skill matrix memberikan gambaran kondisi kompetensi tim saat ini. Namun, perusahaan perlu menggunakan data tersebut untuk membuat keputusan. HR dapat menggunakannya untuk menyusun development path. Engineering dapat menggunakannya untuk memperkuat operational capability.
Management juga dapat menggunakan data tersebut untuk menentukan investasi training. Dengan pendekatan tersebut, training menjadi bagian dari business strategy. Training tidak lagi dipandang hanya sebagai aktivitas pengembangan karyawan.
Skill matrix membantu HR dan Engineering mengukur kompetensi teknisi secara lebih objektif. Perusahaan dapat mengidentifikasi skill gap dan menentukan training priority berdasarkan data. Hasil assessment juga dapat mendukung workforce planning dan career development.
Pada akhirnya, Skill Matrix Teknisi bukan sekadar dokumen HR. Skill matrix dapat menjadi strategic tool untuk meningkatkan technical capability dan mengurangi operational risk. Perusahaan yang ingin membangun technical workforce yang kuat perlu menggabungkan competency assessment dengan training yang tepat.
TSDC siap membantu perusahaan mengembangkan kompetensi teknisi melalui technical training yang relevan dengan kebutuhan industri.
Whatsapp : +62 811 1302 0888
Email : marketing@ptodg.com




